Senin, 24 Februari 2014

CONTOH DO'A DALAM BAHASA INDONESIA


Hadirin wal hadirot rohimakumulloh
Sebelum kita berdoa,marilah kita bersama-sama mengosongkan hati dan pikiran kita dari urusan duniawi yang sering memabukan kita.
Mari kita isi hati kita dengan asma alloh,dengan penuh pengharapan,semoga alloh swt.memaafkan dosa dan kesalahan kita semua.
Selama ini yang hadir dalam hati dan pikiran kita,hanyalah cita-cita dunia dan materi saja.
Harta yang ada pada diri kita selalu dipandang kekurangan,sehingga kita lupa untuk mensyukurinya.
Hati kita kadang-kadang sempit,karena selalu memandang  kekayaan orang lain,bahkan kita sering berburuk sangka pada harta yang dimiliki orang lain.
Kerisauan kita tentang akhirat bahkan jarang terlintas dalam hati kita,padahal kita akan hidup kekal di akhirat nanti.
Siksa yang dijanjikan oleh alloh seolah tidak mustahil akan kita rasakan,apabila saat ini kita hanya sibuk urusan dunia saja.
Marilah kita tengadahkan kedua tangan dan tundukkan kepala kita,dengan hati yang tulus dan ikhlas serta penuh pengharapan kepada alloh swt,semoga alloh swt mengabulkan semua doa dan permohonan kita.
Allahu Akbar …. Allahu Akbar …. Allahu Akbar
Allahu Akbar …. Allahu Akbar …. Allahu Akbar
Allahu Akbar …. Allahu Akbar …. Allahu Akbar
Allahu Akbar walillaahil hamd
Ya Alloh yang Maha Mendengar,
Hari ini kami berkumpul ditempat ini,tiada yang kami harapkan kecuali kasih sayang dan ampunan-Mu.
Ya   Yang Maha Melihat,Engkau Maha Tahu sifat kami yang sesungguhnya,betapa banyak perintah-Mu yang kami lalaikan,
Betapa banyak perintah-Mu yang kami tinggalkan.
Betapa banyak dosa-dosa yang kami lakukan dan kami lupakan.
Ya Alloh yangM aha Mulia.
Hari ini adalah hari kemenangan,namun…..namun bagi kami belum tentu mendafat kemenangan,karena perilaku kami yang banyak yang tidak terpuji,banyak perilaku kami yang menyimpang dari perintah-Mu.
Ya Alloh Yang Maha Pengampun,
Ampunilah dosa dan kesalahan kami,
Ampunilah perbuatan buruk masa lalu kami, yang begitu hina dan tidak terpuji.
Ampunilah dosa-dosa keluarga kami,yang selama ini kami belum bisa membimbingnya kejala yang Engkau ridloi.
Ampunilah dosa-dosa ibu bapak kami,yang selama ini sering kami lupakan jasa-jasa dan kasih sayangnya.
Jadikanlah Ya Alloh,ibu bapak kami menjadi penghuni syurga di akhirat nanti.
Ya Alloh,…ampunilah dosa-dosa saudara-saudara kami,yang selama ini sering kami sakiti dengan lisan dan perbuatan kami.
Ya Alloh Yang Maha bijaksana
Kabulkanlah semua permohonan kami dan ampunilah semua kesalahan kami.


DATA GURU NGAJI DESA KARYAWANGI 2013


NO NAMA JK ALAMAT PENGAJIAN BINAAN KET.
 
   
   
      RT RW    
 
   
   
1 Ujang Acip L 2 1 Nurus Sa'adah  
2 Ade Ma'ruf L 2 1 Nurus Sa'adah  
3 Kusnadi L 2 2 Al Hidayah  
4 Ujang Carmaya L 2 2 Al Hidayah  
5 Solihin L 2 2 Al Hidayah  
6 H. Agus Salim L 1 3 Al Mubarokah  
7 Sanusi L 1 3 Al Mubarokah  
8 Dedi L 1 3 Al Mubarokah  
9 Jajang L 1 3 Al Mubarokah  
10 Hj. E. Mulia SH P 1 3 Al Mubarokah  
11 Iin Solihat P 1 3 Al Mubarokah  
12 Iis Riani P 1 3 Al Mubarokah  
13 Nining Jamilah P 1 3 Al Mubarokah  
14 Sandi Iyen L 3 4 Nur Hidayah  
15 Amin L 3 4 Nur Hidayah  
16 Ajis Hakim M.Ag. L 1 5 Nur Al Hidayah  
17 Imas Rohimah P 4 5 Nur Al Hidayah  
18 Tuti Sumiati S.Ag P 1 5 Nur Al Hidayah  
19 Idah P 1 5 Nur Al Hidayah  
20 Mulyani P 1 5 Nur Al Hidayah  
21 Nenok Niarsah P 2 5 Nurul Ukhuwwah  
22 Dede Aisyah P 4 5 Nurul Ukhuwwah  
23 Jamaludin L 1 5 Al Wathoniyyah  
24 Samsudin L 1 5 Al Wathoniyyah  
25 Ika Kartika P 3 6 Nurul Ukhuwwah Koord.
26 Imas Winarti P 3 6 Nurul Ukhuwwah  
27 Neng Tarmini P 3 6 Nurul Ukhuwwah  
28 Yayah P 3 6 Nurul Ukhuwwah  
29 Ana Karna Abd. Jabbar  L 2 6 Rumah  
30 Teti Mulyani P 2 6 Rumah  
31 Abdurrahman Heryanto L 3 6 Nurul Ukhuwwah  
32 Solehudin L 2 6 Al Wathoniyyah  
33 Rismawati S.Pd.I P 2 6 Al Wathoniyyah  
34 Suryani P 1 6 Nurul Ukhuwwah  
35 H.M. Solihin L 1 6 Nurul Ukhuwwah  
36 Deden Burhanudin L   6 Nurul Ukhuwwah  
37 H. Cari Sutisna L 2 7 Al Mubarokah  
38 Ade Abdul Hamid L 1 7
Al Mubarokah
 
39 Nurdin Hidayat L 2 8 Al Istiqomah  
40 Acep Endang L 2 8 Al Istiqomah  
41 Ade Saeppudin Dz L 2 10 Nurul Huda  
42 Atep Sofian L 1 10 Nurul Huda  
43 Tati Hikamtus Sadiah P 2 10 Nurul Huda  
44 Neni Haerani P 1 10 Nurul Huda  
45 Asep Kurnia L 1 10 Nurul Huda  
46 Witarna L 1 11 Al-Iftikaar, Al Amanah Koord.
47 Warlina P 1 11 Al 'Adiyat  
48 Heni Widyawati P 4 11 Al 'Adiyat  
49 Usep S L 3 11 Al 'Adiyat  
50 H. Ukar Sukarna L 3 11 Al 'Adiyat  
51 Aan K P 5 11 Rumah  
52 Toha Fariz L 2 12 Al Barokah Koord.
53 Lina Marlina P 4 12 Al Barokah  
54 Imas Masitoh P 4 12 Al Barokah  
55 Tata Arifin L 2 14 Al Barokah  
56 Yuyun Yulianti P 2 14 Al Barokah  
57 Anih P 3 14 Al Barokah  
58 Aep L 3 14 Al Barokah  
59 Ratmita L 2 14 Al Barokah  
60 Saidin L 2 14 Al Barokah  
61 Dadang L 1 15 Al Hikmah  
62 Neneng Kartika P 1 15 Al Hikmah  
63 Cucu Kartini P 1 15 Al Hikmah  
64 Ai Rohaeti P 3 15 Al Hikmah  
65 Asep Komara L 3 15 Al Hikmah  
66 Imas Sumiati P 1 15 Al Hikmah  
67 Setia Mulyana L 1 15 Al Hikmah  


   
   


   
Parongpong, Mei 2013  


   

   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   


   
   

Minggu, 23 Februari 2014

LAFADZ USHALLI DAN MENGUSAP MUKA


TENTANG USHOLLI DAN MENGUSAP MUKA
Beberapa situs banyak yang membahas hal ini dari sisi hadits dan berbagai alas an yang mengemuka, mulai dari hadits sayyidina Umar ibn Khaththab sampai hadits bahasan tentang Qurban dan pelaksanaan ibadah haji hingga sunnah sayyidina Hasan ikut terbahas
Namun disini saya tidak akn membahas dari sisi hadits-hadits yang sudah ada, saya akan membahas dari sisi keawaman manusia yang bertaqlid kepada guru-gurunya, yang guru-gurunya bertaqlid pada Syaikhul Mukarram Imam Syafi’I, yang Imam Syafi’I berijtihad melalui Qur-aan, Hadits dan Sunnah Nabi, serta Ijam’ ulama dan Qiyash yang adil…………… dimana kesalahan taqlid saya kalau begitu ?!?!?!?!?!?!?!?!?
Kembali kepada Usholli dan mengusap muka………….
Sebelum kita bahas lebih jauh sebagai orang awam yang tidak memahami Alqur-aan dan mendalami ilmu Hadits, kita samakan dulu pemahaman mengenai shalat
1.       Shalat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam……
Setuju ????
2.       Kalau anda setuju kita lanjutkan, kalau tidak setuju kita hentikan, silakan berhenti membaca,  karena syari’at kita berbeda, tidak mungkin menerima pola pemikiran dari syari’at yang berbeda.
3.       Hal-hal yang dilakukan sebelum takbiratul ihram apapun kaitannya tidaklah termasuk bagian dari shalat
Setuju……………….?????
4.       Hal-hal setelah salam, baik yang bernilai ibadah atau pun tidak, bukan bagian dari shalat
Setuju ??????
Ketika anda setuju dengan keempat hal di atas maka bagaimana anda akan mengatakan bahwa shalat yang sebelumnya di mulai dengan ushalli adalah terlarang dan mengusap muka adalah haram ????
Bid’ah ? karena rasul tak melakukannya ?
Lalu bagaimana dengan orang yang dating ke mesjid dengan menggunakan mobil, motor dan kendaraan lainnya ??? tidakkah itu bid’ah juga ??? tidakkah itu pun menjadi haram ???
Bagaimana pula dengan orang yang sebelum shalatnya membaca Koran, membaca bulletin dakwah, tidakkah itu pun menjadi bid’ah ??? karena di zaman Rasul tidak ada Koran tidak pula bulletin dakwah.
Lalu bagaimana pula dengan orang yang setelah shalat pulang dengan motornya, memakai sandal jepitnya, menggunakan sepedanya dan lain sebagainya………. ??????  apakah itu bukan bid’ah ??? dhalalah pulakah ???
Mari kita lebih bijaksana, lebih tenang dan menghargai pendapat orang lain.
Terakhir, selama lafadz ushalli yang diucapkan seseorang tidak mengganggu orang lain, jangan anda ributkan……. Karena kami yang mengucapkan ushalli semenjak berdiri di belakang guru-guru kami tak akan pernah meninggalkannya walau anda sampaikan ribuan hadits kepada kami
Juga jangan anda ributkan mengusap muka kami, karena kami tidak pernah mengusap muka orang di samping kami, apalagi muka imam, ……. Ini wajah…. Wajah kami… kami usap dengan tangan kami…. Apa urusannya dengan antum semua
Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq
Wallahu a’lam

Jumat, 21 Februari 2014

ADAB MURID DAN GURU


ADAB BELAJAR MENGAJAR
Saat ini banyak sekali tempat belajar maupun mengajar baik formal maupun non formal mengikuti keberadaan zaman, namun sedikit sekali yang memang prosesnya dilakukan LILLAA-HI TA’AALAA, banyak yang melakukannnya berdasarkan dunia dan keduniaan semata.
Untuk itulah maka kami pun menuliskan tulisan ini, bukan dengan maksud menggurui, namun semata untuk menjadi pengingat khususnya bagi kami yang sering lalai dari – NYA, dan semoga tulisan ini menjadi sebuah bahan renungan bagi kita semua yang membacanya….. amiin.
Adab atau akhlaq dan etika belajar mengajar berikut ini kami rangkum dan kami sadur dari kitab Ihyaa ‘uluumuddiin Syaikhunal Mukarram Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazaly Rahimahullah dalam bab Ilmu Kitab pertama ‘Ubudiyyah ( Rub’ul ‘Ibadat ). Dengan penambahan lain yang dirasa perlu,
1.       Membersihkan diri dari akhlaq yang buruk dan tingkah laku yang tercela
Ilmu adalah sebuah ibadah hati yang dijalankan sebagai sebuah do’a yang tersembunyi dengan tujuan mendekatakan diri pada Ilahi, sehingga tidaklah mungkin sesuatu yang suci akan sampai kepada kita apakah lagi kepada orang lain melalui kita jika kita tidak dalam keadaan yang suci.
Bukanklah sebuah hal yang umum dan biasa bahwa masjid dimasuki orang yang berwudhu dan penjara dimasuki orang yang jarang berwudhu ?
Sehingga dengan demikian, sesiapa pun kita yang hendak mengajar atau pun belajar, hendaklah terlebih dahulu dalam keadaan suci dari hadats dan najis secara lahir, dan bersih pula secara bathin dengan meninggalkan segala kemusyrikan dan sifat-sifat buruk dan tercela yang ada di dalam hati kita.  Bahkan dalam kitab Ta’lim Muta’allim dianjurkan untuk melaksanakan shalat dua raka’at terlebih dahulu untuk mendapatkan keberhasilan dari ilmu yang kita inginkan, baik sang pengajar maupun yang belajar.
Bukankah dalam satu hadits dikatakan
“ sesungguhnya malaikat tidak akan pernah masuk kedalam satu rumah pun yang di dalamnya terdapat anjing “ ( dari Abu Thalhah al-Anshari – Muttafq ‘alaih )
Dan hati adalah rumah bagi para malaikat, sedangkan para malaikat adalah utusan dari Allah kepada setiap insane yang akan membawa keilmuan, dan anjingnya adalah sifat-sifat yang tercela semacam pemarah, syahwat, serakah, hasud, iri dan dengki, sombong, ta’ajjub bi nafsi dan lainnya.
Selanjutnya pula dengan akhlaq yang buruk dalam keseharian maka akan memunculkan fenomena lain yang pada dasarnya justru akan menghancurkan keilmuan itu sendiri, karena ilmu, khususnya ilmu agama adalah sebuah ilmu yang di dasari pada sikap mental yang bijaksana, bukan pada sikap yang berlebih-lebihan, bukankah Allah SWT berfirman :
“ Ajaklah olehmu ( Muhammad ) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah (kebijaksanaan), dan mau’idzatil hasanah, dan lawanlah (debat) mereka dengan cara yang baik…”
Adapun sikap-sikap hikmah yang harus dimiliki oleh seseorang yang berkutat dengan ilmu diantaranya adalah sebagi berikut kami sampaikan
i.                     Bijaksana
ii.                   Jujur
iii.                 Ikhlash
iv.                  Tawadhu’
v.                    Sabar
vi.                  Berhati-hati
vii.                Lemah lembut
viii.              Dan lainnya

2.       Jauhkan diri dari keterkaitan terhadap dunia dan keduniaan
Hal ini haruslah kita tinggalkan, karena Allah tidaklah menjadikan bagi manusia dua buah hati dan nurani. Sedangkan ilmu tempatnya di hati, jika kita penuhi hati kita dengan keduniaan maka akhirat akan ditinggalkan sedikit demi sedikit. Karena pada dasarnya manusia lebih mampu untuk melihat dengan matanya bukan dengan hatinya maka keduniaan ini adalah satu hal yang sangat mudah membuat seseorang terjerumus ke dalam pola pemikiran yang kurang tepat dalam memandang hakikat dari ilmu.
Inilah yang menjadi fenomena belakangan ini, begitu banyak tempat mencari ilmu yang didirikan dengan factor duniawi semata, hanya untuk meraup keuntungan dan ketenaran semata. Yang imbasnya kemudian para pelajar dan pengajar pun memandang segala sesutunya berdasarkan materi. Banyak dari pengajar mengkalkulasikan keberhasilan dan kesuksesan pelajarnya dengan hitungan dunia, memandang keberhasilan dari banyaknya materi yang didapat, jabatan yang disandang, kendaraan yang ditunggangi, dan lain sebagainya yang bersifat duniawi, tidak melihat dari sisi amal perbuatan, sikap dan tingkah laku, atau ibadah dan penghambaan.
Bukankah begitu banyak guru yang mengeluhkan ekonominya, padahal gaji seorang guru cukup besar saat ini ?
Bukankah begitu banyak para da’I yang menentukan tarif dan ongkos ceramah ?
Bukankah begitu banyak tempat pendidikan yang memasang biaya selangit ?
Bukankah begitu banyak masyarakat yang memandang sebelah mata kepada para asatidz dan azsatidzah yang berjuang sepenuh hati karena Allah dikarenakan kehidupan yang pas-pasan ?
Bukankah begitu banyak pelajar ataupun santri yang memandang keberhasilan dari sisi panggilan ceramah dan pidato ? tidak dari sisi akhlaq dan kemurnian ?
Bukankah begitu dalamnya sisi dunia ini mulai menguasai kita ?
Sadarlah dan bangunlah………………………………………..

3.       Jangan meremehkan ilmu
Orang besar dan hebat tidak dilihat dari harta dan kekuasaannya, namun orang hebat dilihat dari ilmu dan amalnya. Karenanya menjadi sebuah keharusan bagi seorang murid untuk senantiasa menghormati gurunya, janganlah seorang murid menunggu untuk diperintahkan gurunya, atau pula memilih-milih apa yang diperintahkan gurunya untuk ia laksanakan, namun hendaklah ia laksanakan semuanya dengan sepenuh hatinya. Carilah berkah dari mereka, karena ketika seseorang telah diangkat menjadi seorang guru di kalangan ummatnya, ia telah diangkat oleh Allah derajat keutamaannya,
“ Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan diberikan ilmu-Nya beberapa derajat “
Lalu bagaimana kita sebagai murid akan merendahkan beliau-beliau ini, para guru-guru kita, yang ada mau pun tiada, sedangkan Allah telah mengangkat mereka beberapa derajat.
Sedangkan murid di hadapan sang guru laksana orang sakit yang bodoh berada di hadapan seorang dokter, yang akan melaksanakan segala saran tanpa banyak bertanya apa pun.
Kemudian tidaklah akan berhasil mendapatkan ilmu kecuali dengan tawadhu’ di hadapan guru-guru kita, mendengarkan setiap perkataannya dengan penuh kehati-hatian dan pencermatan yang baik.
Jangan pula memperbanyak pertanyaan, karena seorang guru tentu lebih memahami batasan pemikiran kita sebelum beliau menyampaikan sesuatu. Tidaklah pula menjadi sopan menahan guru kita dengan memegangi pakainnya.
Serta janganlah memperlihatkan kemalasan atau pun kemarahan di depan guru kita, karena bias jadi beliau akan tersinggung dengan sikap kita tersebut.
Janganlah pula duduk dengan membelakangi beliau atau memunggunginya.
Jangan pula lewat di depan guru dengan seenaknya, berlalulah di belakang beliau dengan menunduk dan sikap yang sopan.
Muliakan beliau-beliau dengan sepenuh hati dalam batas Syar’i

4.       Tentukan apa yang akan dipelajari terlebih dahulu
Setiap orang mempunyai batas kemampuan berfikir yang berbeda-beda, memiliki kemampuan yang tidak sama, otak manusia bagai sebuah gelas bocor yang isi dan kebocorannya tidaklah sama, sehingga seorang guru haruslah bijak memberikan ilmu yang diajarkannya, tidak bias menyamaratakan semuanya. Metode klasikal memang akan memudahkan seorang guru untuk mengajarkan muridnya dengan lebih cepat dan sederhana, namun perlu pula seorang guru meluangkan waktunya untuk beberapa orang dari mereka yang memang memerlukan perhatian khusus, baik karena kelebihan atau pun kekurangannya.
Selain itu setiap orang pun memiliki kakater yang berbeda, yang tentu saja akan memberikan cara memahami sesuatu yang berbeda pula.

5.       Pelajari semua ilmu secara baik, terutama ilmu yang berkaitan dengan agama dan akhirat
Tidaklah kita meninggalkan satu dasar dari satu ilmu kecuali kita akan menjadi bingung pada akhirnya, sebelum mempelajarinya secara menyeluruh maka pelajarilah dasarnya terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya.
Sebelum belajar tajwid, belajarlah dahulu mengenai bacaan alqur-aan, huruf, tanda, syakal, dan dasar lainnya
Sebelum mempelajari ushul fiqih, pelajarilah fiqihnya terlebih dahulu
Begitu selanjutnya. Setahap demi setahap dipelajari sampai kita menyelesaikannya untuk kemudian berpindah kepada ilmu yang lain, agar kita mendapatkan apa yang kita harapkan dalam kesempurnaan ilmu.

6.       Tidak berloncatan dalam mempelajari ilmu
Dalam artian tidak belajar ilmu secara acak, kesana kemari, berganti guru tiap hari, belajar ilmu yang berbeda setiap waktu, karena hal ini akan membuat kita kehilangan konsentrasi dan pemahaman yang baik, bukan ilmu yang akan didapat, namun kebingungan yang akan mencengkeram kita ketika kita belajar dengan cara demikian
Saran saya sebaiknya belajarlah dengan mengikuti tartibiyyah pendidikan yang ada. Bertetaplah di satu guru sebelum berpindah

7.       Tidak berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran yang lain sebelum difahami pelajaran yang sebelumnya
Banyak di antara kita yang belajar dengan system makan siang, artinya kita belajar semua hal tanpa ba bi bu , kita ingin meraih semuanya sekaligus, meraup semuanya dengan sekali jarring. Ingin menangkap berbagai jenis ikan dengan satu kali kalian………… mungkin ? sepertinya tidak
Inilah sebabnya, cobalah untuk mempelajari berbagai hal dengan setahap demi setahap, otak kita hanya sebesar tidak lebih dari setengah liter. Rasanya tidaklah mungkin bagi kita untuk mengisinya dengan kapasitas berlebih. Bersabarlah dengan belajar satu demi satu dan tidak berlebihan serta bersikap seperti orang yang kelaparan dan kehausan.

8.       Mengetahui sebab dan alas an tentang mempelajari  dan mengejarkan suatu ilmu
Kenapa kita perlu alas an ?
Jawabannya sangat sederhana, karena dengan alas an dan sebab yang kuat akan mendorong dan memotivasi kita untuk belajar lebih giat dan lebih rajin lagi
Lihatlah saat ini yang terjadi… begitu banyak orang yang getol dan berkeinginan mempelajari dunia informatika karena ada semacam keyakinan yang kuat bahwa dunia dikuasai oleh mereka yang memiliki dasar kemampuan informatika…. Apakah demikian ??? Wallahu a’lam
Apakah lagi dengan ilmu akhirat……… ia akan mengisi alam abadi di akhirat kelak dengan segala rahmat dan karunia-Nya… amin
Karenanya… tentukan alas an dan niat kita
JANGAN MENGATAKAN ………. “ BIARLAH ASAL NGAJI SAJA……. Atau ………. YANG PENTING MAH NGAJAR…… “ tinggalkan kalimat tersebut
Juga jangan pernah mempelajari sesuatu karena ingin menyanggah pendapat seseorang. Juga tercela bagi kita mempelajari sesuatu dengan tujuan ingin dipuji dan dipuja oleh manusia

9.       Hendaklah keinginan seseorang untuk belajar adalah muncul dari nuraninya
Niatan yang tulus dan ikhlas bersumber dari nurani akan membuat kita kuat
“ sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung niatnya “
Niat yang kuat akan mendoronhg kita lebih istiqomah di jalur-NYA. Dan ini akan terimplementasikan dalam kehidupan kesehariannya baik sebagai seorang murid maupun sebagai seorang guru

10.   Ketahuilah jalur ilmu yang akan dipelajari oleh kita
Maksudnya perbanyaklah talaqqi, maka dengan demikiam kita akan mengetahui ilmu dari sumbernya, tidak ada salahny bagi kita untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang siapa guru kita, dimana beliau dulu pernah belajar, siapa rekan seperjuangannya, bagaimana kehidupan kesehariannya, dan lain sebagainya. Sehingga akan jelaslah bagi kita sanad ilmunya, bukan hanya mengandalkan kemampuan berbicara di depan publik, berdakwah dan berpidato, tidak pula melihat dari pakainnya saja, namun perhatikan pula langkah dan sikapnya, lebih sering manakah beliau berkata atau terdiam, sering puasa atau berbuka, dimana beliau ketika adzan berkumandang, dan lain sebagainya, dan ini hanya bias kita lihat secara langsung, tidak dengan obrolan.
Karena lidah lebih mudah berbicara daripada tangan yang melaksanakan
Demikian, semoga membawa manfaat