ADAB BELAJAR MENGAJAR
Saat ini banyak sekali
tempat belajar maupun mengajar baik formal maupun non formal mengikuti
keberadaan zaman, namun sedikit sekali yang memang prosesnya dilakukan
LILLAA-HI TA’AALAA, banyak yang melakukannnya berdasarkan dunia dan keduniaan
semata.
Untuk itulah maka kami pun
menuliskan tulisan ini, bukan dengan maksud menggurui, namun semata untuk
menjadi pengingat khususnya bagi kami yang sering lalai dari – NYA, dan semoga
tulisan ini menjadi sebuah bahan renungan bagi kita semua yang membacanya…..
amiin.
Adab atau akhlaq dan etika
belajar mengajar berikut ini kami rangkum dan kami sadur dari kitab Ihyaa
‘uluumuddiin Syaikhunal Mukarram Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad
al-Ghazaly Rahimahullah dalam bab Ilmu Kitab pertama ‘Ubudiyyah ( Rub’ul
‘Ibadat ). Dengan penambahan lain yang dirasa perlu,
1.
Membersihkan
diri dari akhlaq yang buruk dan tingkah laku yang tercela
Ilmu adalah sebuah ibadah hati yang
dijalankan sebagai sebuah do’a yang tersembunyi dengan tujuan mendekatakan diri
pada Ilahi, sehingga tidaklah mungkin sesuatu yang suci akan sampai kepada kita
apakah lagi kepada orang lain melalui kita jika kita tidak dalam keadaan yang
suci.
Bukanklah sebuah hal yang umum dan biasa
bahwa masjid dimasuki orang yang berwudhu dan penjara dimasuki orang yang
jarang berwudhu ?
Sehingga dengan demikian, sesiapa pun kita
yang hendak mengajar atau pun belajar, hendaklah terlebih dahulu dalam keadaan
suci dari hadats dan najis secara lahir, dan bersih pula secara bathin dengan
meninggalkan segala kemusyrikan dan sifat-sifat buruk dan tercela yang ada di
dalam hati kita. Bahkan dalam kitab
Ta’lim Muta’allim dianjurkan untuk melaksanakan shalat dua raka’at terlebih
dahulu untuk mendapatkan keberhasilan dari ilmu yang kita inginkan, baik sang pengajar
maupun yang belajar.
Bukankah dalam satu hadits dikatakan
“ sesungguhnya malaikat tidak akan pernah
masuk kedalam satu rumah pun yang di dalamnya terdapat anjing “ ( dari Abu
Thalhah al-Anshari – Muttafq ‘alaih )
Dan hati adalah rumah bagi para malaikat,
sedangkan para malaikat adalah utusan dari Allah kepada setiap insane yang akan
membawa keilmuan, dan anjingnya adalah sifat-sifat yang tercela semacam
pemarah, syahwat, serakah, hasud, iri dan dengki, sombong, ta’ajjub bi nafsi
dan lainnya.
Selanjutnya pula dengan akhlaq yang buruk
dalam keseharian maka akan memunculkan fenomena lain yang pada dasarnya justru
akan menghancurkan keilmuan itu sendiri, karena ilmu, khususnya ilmu agama
adalah sebuah ilmu yang di dasari pada sikap mental yang bijaksana, bukan pada
sikap yang berlebih-lebihan, bukankah Allah SWT berfirman :
“ Ajaklah olehmu ( Muhammad ) kepada jalan
Tuhan-Mu dengan hikmah (kebijaksanaan), dan mau’idzatil hasanah, dan lawanlah
(debat) mereka dengan cara yang baik…”
Adapun sikap-sikap hikmah yang harus
dimiliki oleh seseorang yang berkutat dengan ilmu diantaranya adalah sebagi
berikut kami sampaikan
i.
Bijaksana
ii.
Jujur
iii.
Ikhlash
iv.
Tawadhu’
v.
Sabar
vi.
Berhati-hati
vii.
Lemah lembut
viii.
Dan lainnya
2.
Jauhkan diri
dari keterkaitan terhadap dunia dan keduniaan
Hal ini haruslah kita tinggalkan, karena
Allah tidaklah menjadikan bagi manusia dua buah hati dan nurani. Sedangkan ilmu
tempatnya di hati, jika kita penuhi hati kita dengan keduniaan maka akhirat
akan ditinggalkan sedikit demi sedikit. Karena pada dasarnya manusia lebih
mampu untuk melihat dengan matanya bukan dengan hatinya maka keduniaan ini
adalah satu hal yang sangat mudah membuat seseorang terjerumus ke dalam pola
pemikiran yang kurang tepat dalam memandang hakikat dari ilmu.
Inilah yang menjadi fenomena belakangan ini,
begitu banyak tempat mencari ilmu yang didirikan dengan factor duniawi semata,
hanya untuk meraup keuntungan dan ketenaran semata. Yang imbasnya kemudian para
pelajar dan pengajar pun memandang segala sesutunya berdasarkan materi. Banyak dari
pengajar mengkalkulasikan keberhasilan dan kesuksesan pelajarnya dengan
hitungan dunia, memandang keberhasilan dari banyaknya materi yang didapat,
jabatan yang disandang, kendaraan yang ditunggangi, dan lain sebagainya yang
bersifat duniawi, tidak melihat dari sisi amal perbuatan, sikap dan tingkah
laku, atau ibadah dan penghambaan.
Bukankah begitu banyak guru yang mengeluhkan
ekonominya, padahal gaji seorang guru cukup besar saat ini ?
Bukankah begitu banyak para da’I yang
menentukan tarif dan ongkos ceramah ?
Bukankah begitu banyak tempat pendidikan
yang memasang biaya selangit ?
Bukankah begitu banyak masyarakat yang
memandang sebelah mata kepada para asatidz dan azsatidzah yang berjuang sepenuh
hati karena Allah dikarenakan kehidupan yang pas-pasan ?
Bukankah begitu banyak pelajar ataupun
santri yang memandang keberhasilan dari sisi panggilan ceramah dan pidato ?
tidak dari sisi akhlaq dan kemurnian ?
Bukankah begitu dalamnya sisi dunia ini
mulai menguasai kita ?
Sadarlah dan bangunlah………………………………………..
3.
Jangan
meremehkan ilmu
Orang besar dan hebat tidak dilihat dari
harta dan kekuasaannya, namun orang hebat dilihat dari ilmu dan amalnya.
Karenanya menjadi sebuah keharusan bagi seorang murid untuk senantiasa
menghormati gurunya, janganlah seorang murid menunggu untuk diperintahkan
gurunya, atau pula memilih-milih apa yang diperintahkan gurunya untuk ia
laksanakan, namun hendaklah ia laksanakan semuanya dengan sepenuh hatinya.
Carilah berkah dari mereka, karena ketika seseorang telah diangkat menjadi seorang
guru di kalangan ummatnya, ia telah diangkat oleh Allah derajat keutamaannya,
“ Allah akan mengangkat orang-orang yang
beriman di antara kamu dan diberikan ilmu-Nya beberapa derajat “
Lalu bagaimana kita sebagai murid akan
merendahkan beliau-beliau ini, para guru-guru kita, yang ada mau pun tiada,
sedangkan Allah telah mengangkat mereka beberapa derajat.
Sedangkan murid di hadapan sang guru laksana
orang sakit yang bodoh berada di hadapan seorang dokter, yang akan melaksanakan
segala saran tanpa banyak bertanya apa pun.
Kemudian tidaklah akan berhasil mendapatkan
ilmu kecuali dengan tawadhu’ di hadapan guru-guru kita, mendengarkan setiap
perkataannya dengan penuh kehati-hatian dan pencermatan yang baik.
Jangan pula memperbanyak pertanyaan, karena
seorang guru tentu lebih memahami batasan pemikiran kita sebelum beliau
menyampaikan sesuatu. Tidaklah pula menjadi sopan menahan guru kita dengan
memegangi pakainnya.
Serta janganlah memperlihatkan kemalasan
atau pun kemarahan di depan guru kita, karena bias jadi beliau akan tersinggung
dengan sikap kita tersebut.
Janganlah pula duduk dengan membelakangi
beliau atau memunggunginya.
Jangan pula lewat di depan guru dengan
seenaknya, berlalulah di belakang beliau dengan menunduk dan sikap yang sopan.
Muliakan beliau-beliau dengan sepenuh hati
dalam batas Syar’i
4.
Tentukan apa
yang akan dipelajari terlebih dahulu
Setiap orang mempunyai batas kemampuan
berfikir yang berbeda-beda, memiliki kemampuan yang tidak sama, otak manusia
bagai sebuah gelas bocor yang isi dan kebocorannya tidaklah sama, sehingga
seorang guru haruslah bijak memberikan ilmu yang diajarkannya, tidak bias
menyamaratakan semuanya. Metode klasikal memang akan memudahkan seorang guru
untuk mengajarkan muridnya dengan lebih cepat dan sederhana, namun perlu pula
seorang guru meluangkan waktunya untuk beberapa orang dari mereka yang memang
memerlukan perhatian khusus, baik karena kelebihan atau pun kekurangannya.
Selain itu setiap orang pun memiliki kakater
yang berbeda, yang tentu saja akan memberikan cara memahami sesuatu yang
berbeda pula.
5.
Pelajari semua
ilmu secara baik, terutama ilmu yang berkaitan dengan agama dan akhirat
Tidaklah kita meninggalkan satu dasar dari
satu ilmu kecuali kita akan menjadi bingung pada akhirnya, sebelum mempelajarinya
secara menyeluruh maka pelajarilah dasarnya terlebih dahulu dengan
sebaik-baiknya.
Sebelum belajar tajwid, belajarlah dahulu
mengenai bacaan alqur-aan, huruf, tanda, syakal, dan dasar lainnya
Sebelum mempelajari ushul fiqih, pelajarilah
fiqihnya terlebih dahulu
Begitu selanjutnya. Setahap demi setahap
dipelajari sampai kita menyelesaikannya untuk kemudian berpindah kepada ilmu
yang lain, agar kita mendapatkan apa yang kita harapkan dalam kesempurnaan
ilmu.
6.
Tidak
berloncatan dalam mempelajari ilmu
Dalam artian tidak belajar ilmu secara acak,
kesana kemari, berganti guru tiap hari, belajar ilmu yang berbeda setiap waktu,
karena hal ini akan membuat kita kehilangan konsentrasi dan pemahaman yang
baik, bukan ilmu yang akan didapat, namun kebingungan yang akan mencengkeram
kita ketika kita belajar dengan cara demikian
Saran saya sebaiknya belajarlah dengan
mengikuti tartibiyyah pendidikan yang ada. Bertetaplah di satu guru sebelum
berpindah
7.
Tidak
berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran yang lain sebelum difahami pelajaran
yang sebelumnya
Banyak di antara kita yang belajar dengan
system makan siang, artinya kita belajar semua hal tanpa ba bi bu , kita ingin
meraih semuanya sekaligus, meraup semuanya dengan sekali jarring. Ingin
menangkap berbagai jenis ikan dengan satu kali kalian………… mungkin ? sepertinya
tidak
Inilah sebabnya, cobalah untuk mempelajari
berbagai hal dengan setahap demi setahap, otak kita hanya sebesar tidak lebih
dari setengah liter. Rasanya tidaklah mungkin bagi kita untuk mengisinya dengan
kapasitas berlebih. Bersabarlah dengan belajar satu demi satu dan tidak
berlebihan serta bersikap seperti orang yang kelaparan dan kehausan.
8.
Mengetahui
sebab dan alas an tentang mempelajari
dan mengejarkan suatu ilmu
Kenapa kita perlu alas an ?
Jawabannya sangat sederhana, karena dengan
alas an dan sebab yang kuat akan mendorong dan memotivasi kita untuk belajar
lebih giat dan lebih rajin lagi
Lihatlah saat ini yang terjadi… begitu
banyak orang yang getol dan berkeinginan mempelajari dunia informatika karena
ada semacam keyakinan yang kuat bahwa dunia dikuasai oleh mereka yang memiliki
dasar kemampuan informatika…. Apakah demikian ??? Wallahu a’lam
Apakah lagi dengan ilmu akhirat……… ia akan
mengisi alam abadi di akhirat kelak dengan segala rahmat dan karunia-Nya… amin
Karenanya… tentukan alas an dan niat kita
JANGAN MENGATAKAN ………. “ BIARLAH ASAL NGAJI
SAJA……. Atau ………. YANG PENTING MAH NGAJAR…… “ tinggalkan kalimat tersebut
Juga jangan pernah mempelajari sesuatu
karena ingin menyanggah pendapat seseorang. Juga tercela bagi kita mempelajari
sesuatu dengan tujuan ingin dipuji dan dipuja oleh manusia
9.
Hendaklah
keinginan seseorang untuk belajar adalah muncul dari nuraninya
Niatan yang tulus dan ikhlas bersumber dari
nurani akan membuat kita kuat
“ sesungguhnya semua amal perbuatan
tergantung niatnya “
Niat yang kuat akan mendoronhg kita lebih
istiqomah di jalur-NYA. Dan ini akan terimplementasikan dalam kehidupan
kesehariannya baik sebagai seorang murid maupun sebagai seorang guru
10.
Ketahuilah
jalur ilmu yang akan dipelajari oleh kita
Maksudnya perbanyaklah talaqqi, maka dengan
demikiam kita akan mengetahui ilmu dari sumbernya, tidak ada salahny bagi kita
untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang siapa guru kita, dimana beliau dulu
pernah belajar, siapa rekan seperjuangannya, bagaimana kehidupan kesehariannya,
dan lain sebagainya. Sehingga akan jelaslah bagi kita sanad ilmunya, bukan
hanya mengandalkan kemampuan berbicara di depan publik, berdakwah dan
berpidato, tidak pula melihat dari pakainnya saja, namun perhatikan pula
langkah dan sikapnya, lebih sering manakah beliau berkata atau terdiam, sering
puasa atau berbuka, dimana beliau ketika adzan berkumandang, dan lain
sebagainya, dan ini hanya bias kita lihat secara langsung, tidak dengan
obrolan.
Karena lidah lebih mudah berbicara daripada
tangan yang melaksanakan
Demikian, semoga membawa
manfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar