Jumat, 21 Februari 2014

ADAB MURID DAN GURU


ADAB BELAJAR MENGAJAR
Saat ini banyak sekali tempat belajar maupun mengajar baik formal maupun non formal mengikuti keberadaan zaman, namun sedikit sekali yang memang prosesnya dilakukan LILLAA-HI TA’AALAA, banyak yang melakukannnya berdasarkan dunia dan keduniaan semata.
Untuk itulah maka kami pun menuliskan tulisan ini, bukan dengan maksud menggurui, namun semata untuk menjadi pengingat khususnya bagi kami yang sering lalai dari – NYA, dan semoga tulisan ini menjadi sebuah bahan renungan bagi kita semua yang membacanya….. amiin.
Adab atau akhlaq dan etika belajar mengajar berikut ini kami rangkum dan kami sadur dari kitab Ihyaa ‘uluumuddiin Syaikhunal Mukarram Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazaly Rahimahullah dalam bab Ilmu Kitab pertama ‘Ubudiyyah ( Rub’ul ‘Ibadat ). Dengan penambahan lain yang dirasa perlu,
1.       Membersihkan diri dari akhlaq yang buruk dan tingkah laku yang tercela
Ilmu adalah sebuah ibadah hati yang dijalankan sebagai sebuah do’a yang tersembunyi dengan tujuan mendekatakan diri pada Ilahi, sehingga tidaklah mungkin sesuatu yang suci akan sampai kepada kita apakah lagi kepada orang lain melalui kita jika kita tidak dalam keadaan yang suci.
Bukanklah sebuah hal yang umum dan biasa bahwa masjid dimasuki orang yang berwudhu dan penjara dimasuki orang yang jarang berwudhu ?
Sehingga dengan demikian, sesiapa pun kita yang hendak mengajar atau pun belajar, hendaklah terlebih dahulu dalam keadaan suci dari hadats dan najis secara lahir, dan bersih pula secara bathin dengan meninggalkan segala kemusyrikan dan sifat-sifat buruk dan tercela yang ada di dalam hati kita.  Bahkan dalam kitab Ta’lim Muta’allim dianjurkan untuk melaksanakan shalat dua raka’at terlebih dahulu untuk mendapatkan keberhasilan dari ilmu yang kita inginkan, baik sang pengajar maupun yang belajar.
Bukankah dalam satu hadits dikatakan
“ sesungguhnya malaikat tidak akan pernah masuk kedalam satu rumah pun yang di dalamnya terdapat anjing “ ( dari Abu Thalhah al-Anshari – Muttafq ‘alaih )
Dan hati adalah rumah bagi para malaikat, sedangkan para malaikat adalah utusan dari Allah kepada setiap insane yang akan membawa keilmuan, dan anjingnya adalah sifat-sifat yang tercela semacam pemarah, syahwat, serakah, hasud, iri dan dengki, sombong, ta’ajjub bi nafsi dan lainnya.
Selanjutnya pula dengan akhlaq yang buruk dalam keseharian maka akan memunculkan fenomena lain yang pada dasarnya justru akan menghancurkan keilmuan itu sendiri, karena ilmu, khususnya ilmu agama adalah sebuah ilmu yang di dasari pada sikap mental yang bijaksana, bukan pada sikap yang berlebih-lebihan, bukankah Allah SWT berfirman :
“ Ajaklah olehmu ( Muhammad ) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah (kebijaksanaan), dan mau’idzatil hasanah, dan lawanlah (debat) mereka dengan cara yang baik…”
Adapun sikap-sikap hikmah yang harus dimiliki oleh seseorang yang berkutat dengan ilmu diantaranya adalah sebagi berikut kami sampaikan
i.                     Bijaksana
ii.                   Jujur
iii.                 Ikhlash
iv.                  Tawadhu’
v.                    Sabar
vi.                  Berhati-hati
vii.                Lemah lembut
viii.              Dan lainnya

2.       Jauhkan diri dari keterkaitan terhadap dunia dan keduniaan
Hal ini haruslah kita tinggalkan, karena Allah tidaklah menjadikan bagi manusia dua buah hati dan nurani. Sedangkan ilmu tempatnya di hati, jika kita penuhi hati kita dengan keduniaan maka akhirat akan ditinggalkan sedikit demi sedikit. Karena pada dasarnya manusia lebih mampu untuk melihat dengan matanya bukan dengan hatinya maka keduniaan ini adalah satu hal yang sangat mudah membuat seseorang terjerumus ke dalam pola pemikiran yang kurang tepat dalam memandang hakikat dari ilmu.
Inilah yang menjadi fenomena belakangan ini, begitu banyak tempat mencari ilmu yang didirikan dengan factor duniawi semata, hanya untuk meraup keuntungan dan ketenaran semata. Yang imbasnya kemudian para pelajar dan pengajar pun memandang segala sesutunya berdasarkan materi. Banyak dari pengajar mengkalkulasikan keberhasilan dan kesuksesan pelajarnya dengan hitungan dunia, memandang keberhasilan dari banyaknya materi yang didapat, jabatan yang disandang, kendaraan yang ditunggangi, dan lain sebagainya yang bersifat duniawi, tidak melihat dari sisi amal perbuatan, sikap dan tingkah laku, atau ibadah dan penghambaan.
Bukankah begitu banyak guru yang mengeluhkan ekonominya, padahal gaji seorang guru cukup besar saat ini ?
Bukankah begitu banyak para da’I yang menentukan tarif dan ongkos ceramah ?
Bukankah begitu banyak tempat pendidikan yang memasang biaya selangit ?
Bukankah begitu banyak masyarakat yang memandang sebelah mata kepada para asatidz dan azsatidzah yang berjuang sepenuh hati karena Allah dikarenakan kehidupan yang pas-pasan ?
Bukankah begitu banyak pelajar ataupun santri yang memandang keberhasilan dari sisi panggilan ceramah dan pidato ? tidak dari sisi akhlaq dan kemurnian ?
Bukankah begitu dalamnya sisi dunia ini mulai menguasai kita ?
Sadarlah dan bangunlah………………………………………..

3.       Jangan meremehkan ilmu
Orang besar dan hebat tidak dilihat dari harta dan kekuasaannya, namun orang hebat dilihat dari ilmu dan amalnya. Karenanya menjadi sebuah keharusan bagi seorang murid untuk senantiasa menghormati gurunya, janganlah seorang murid menunggu untuk diperintahkan gurunya, atau pula memilih-milih apa yang diperintahkan gurunya untuk ia laksanakan, namun hendaklah ia laksanakan semuanya dengan sepenuh hatinya. Carilah berkah dari mereka, karena ketika seseorang telah diangkat menjadi seorang guru di kalangan ummatnya, ia telah diangkat oleh Allah derajat keutamaannya,
“ Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan diberikan ilmu-Nya beberapa derajat “
Lalu bagaimana kita sebagai murid akan merendahkan beliau-beliau ini, para guru-guru kita, yang ada mau pun tiada, sedangkan Allah telah mengangkat mereka beberapa derajat.
Sedangkan murid di hadapan sang guru laksana orang sakit yang bodoh berada di hadapan seorang dokter, yang akan melaksanakan segala saran tanpa banyak bertanya apa pun.
Kemudian tidaklah akan berhasil mendapatkan ilmu kecuali dengan tawadhu’ di hadapan guru-guru kita, mendengarkan setiap perkataannya dengan penuh kehati-hatian dan pencermatan yang baik.
Jangan pula memperbanyak pertanyaan, karena seorang guru tentu lebih memahami batasan pemikiran kita sebelum beliau menyampaikan sesuatu. Tidaklah pula menjadi sopan menahan guru kita dengan memegangi pakainnya.
Serta janganlah memperlihatkan kemalasan atau pun kemarahan di depan guru kita, karena bias jadi beliau akan tersinggung dengan sikap kita tersebut.
Janganlah pula duduk dengan membelakangi beliau atau memunggunginya.
Jangan pula lewat di depan guru dengan seenaknya, berlalulah di belakang beliau dengan menunduk dan sikap yang sopan.
Muliakan beliau-beliau dengan sepenuh hati dalam batas Syar’i

4.       Tentukan apa yang akan dipelajari terlebih dahulu
Setiap orang mempunyai batas kemampuan berfikir yang berbeda-beda, memiliki kemampuan yang tidak sama, otak manusia bagai sebuah gelas bocor yang isi dan kebocorannya tidaklah sama, sehingga seorang guru haruslah bijak memberikan ilmu yang diajarkannya, tidak bias menyamaratakan semuanya. Metode klasikal memang akan memudahkan seorang guru untuk mengajarkan muridnya dengan lebih cepat dan sederhana, namun perlu pula seorang guru meluangkan waktunya untuk beberapa orang dari mereka yang memang memerlukan perhatian khusus, baik karena kelebihan atau pun kekurangannya.
Selain itu setiap orang pun memiliki kakater yang berbeda, yang tentu saja akan memberikan cara memahami sesuatu yang berbeda pula.

5.       Pelajari semua ilmu secara baik, terutama ilmu yang berkaitan dengan agama dan akhirat
Tidaklah kita meninggalkan satu dasar dari satu ilmu kecuali kita akan menjadi bingung pada akhirnya, sebelum mempelajarinya secara menyeluruh maka pelajarilah dasarnya terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya.
Sebelum belajar tajwid, belajarlah dahulu mengenai bacaan alqur-aan, huruf, tanda, syakal, dan dasar lainnya
Sebelum mempelajari ushul fiqih, pelajarilah fiqihnya terlebih dahulu
Begitu selanjutnya. Setahap demi setahap dipelajari sampai kita menyelesaikannya untuk kemudian berpindah kepada ilmu yang lain, agar kita mendapatkan apa yang kita harapkan dalam kesempurnaan ilmu.

6.       Tidak berloncatan dalam mempelajari ilmu
Dalam artian tidak belajar ilmu secara acak, kesana kemari, berganti guru tiap hari, belajar ilmu yang berbeda setiap waktu, karena hal ini akan membuat kita kehilangan konsentrasi dan pemahaman yang baik, bukan ilmu yang akan didapat, namun kebingungan yang akan mencengkeram kita ketika kita belajar dengan cara demikian
Saran saya sebaiknya belajarlah dengan mengikuti tartibiyyah pendidikan yang ada. Bertetaplah di satu guru sebelum berpindah

7.       Tidak berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran yang lain sebelum difahami pelajaran yang sebelumnya
Banyak di antara kita yang belajar dengan system makan siang, artinya kita belajar semua hal tanpa ba bi bu , kita ingin meraih semuanya sekaligus, meraup semuanya dengan sekali jarring. Ingin menangkap berbagai jenis ikan dengan satu kali kalian………… mungkin ? sepertinya tidak
Inilah sebabnya, cobalah untuk mempelajari berbagai hal dengan setahap demi setahap, otak kita hanya sebesar tidak lebih dari setengah liter. Rasanya tidaklah mungkin bagi kita untuk mengisinya dengan kapasitas berlebih. Bersabarlah dengan belajar satu demi satu dan tidak berlebihan serta bersikap seperti orang yang kelaparan dan kehausan.

8.       Mengetahui sebab dan alas an tentang mempelajari  dan mengejarkan suatu ilmu
Kenapa kita perlu alas an ?
Jawabannya sangat sederhana, karena dengan alas an dan sebab yang kuat akan mendorong dan memotivasi kita untuk belajar lebih giat dan lebih rajin lagi
Lihatlah saat ini yang terjadi… begitu banyak orang yang getol dan berkeinginan mempelajari dunia informatika karena ada semacam keyakinan yang kuat bahwa dunia dikuasai oleh mereka yang memiliki dasar kemampuan informatika…. Apakah demikian ??? Wallahu a’lam
Apakah lagi dengan ilmu akhirat……… ia akan mengisi alam abadi di akhirat kelak dengan segala rahmat dan karunia-Nya… amin
Karenanya… tentukan alas an dan niat kita
JANGAN MENGATAKAN ………. “ BIARLAH ASAL NGAJI SAJA……. Atau ………. YANG PENTING MAH NGAJAR…… “ tinggalkan kalimat tersebut
Juga jangan pernah mempelajari sesuatu karena ingin menyanggah pendapat seseorang. Juga tercela bagi kita mempelajari sesuatu dengan tujuan ingin dipuji dan dipuja oleh manusia

9.       Hendaklah keinginan seseorang untuk belajar adalah muncul dari nuraninya
Niatan yang tulus dan ikhlas bersumber dari nurani akan membuat kita kuat
“ sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung niatnya “
Niat yang kuat akan mendoronhg kita lebih istiqomah di jalur-NYA. Dan ini akan terimplementasikan dalam kehidupan kesehariannya baik sebagai seorang murid maupun sebagai seorang guru

10.   Ketahuilah jalur ilmu yang akan dipelajari oleh kita
Maksudnya perbanyaklah talaqqi, maka dengan demikiam kita akan mengetahui ilmu dari sumbernya, tidak ada salahny bagi kita untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang siapa guru kita, dimana beliau dulu pernah belajar, siapa rekan seperjuangannya, bagaimana kehidupan kesehariannya, dan lain sebagainya. Sehingga akan jelaslah bagi kita sanad ilmunya, bukan hanya mengandalkan kemampuan berbicara di depan publik, berdakwah dan berpidato, tidak pula melihat dari pakainnya saja, namun perhatikan pula langkah dan sikapnya, lebih sering manakah beliau berkata atau terdiam, sering puasa atau berbuka, dimana beliau ketika adzan berkumandang, dan lain sebagainya, dan ini hanya bias kita lihat secara langsung, tidak dengan obrolan.
Karena lidah lebih mudah berbicara daripada tangan yang melaksanakan
Demikian, semoga membawa manfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar