Taqlid dan Ijtihad
Perlu diketahui bahwa orang-orang
yang menjalankan syari’at Islam dengan bermadzhabkan as-Syafi’i, Hanafi,
Maliki, Hanbali dan lain-lain bukanlah orang yang fanatik madzhab, karena orang
yang bermadzhab Syafi’i juga menaruh hormat terhadap orang yang mengikuti
madzhab lain seperti yang banyak ditulis dalam kitab-kitab ulama mereka. Mereka
juga tahu bahwa para imam-imam mujtahid adalah orang yang mendapat petunjuk
dari Allah.[1]
Andai pernah terjadi perseteruan
yang menjurus pertengkaran, maka hal itu bukan berarti menunjukkan bahwa
madzhabnya yang bathil. Seperti apabila ada orang Islam mencuri, apakah lalu
kita mengatakan bahwa ternyata Islam mengajarkan mencuri. Tidak bukan?!
Sayyidina Ali mengatakan,
“Ketahuilah kebenaran, maka kamu akan tahu siapa orang yang benar”.
Keterangan perlu disampaikan, karena
hanya menceritakan bahwa ada kota yang hancur gara-gara terjadi perseteruan
antara Syafi’iyyah dan Hanafiyyah yang katanya diceritakan Yaqut al-Hamawi
dalam Mu’jam al-Buldan. – mengenai Yaqut al-Hamawi – Lihat pada catatan lain
yang kami dapatkan dengan judul Yaqut Hamawi seorang ahli geografi muslim – ATAU
KLIK DI SINI